Semua orang bilang padaku, bahwa kau kuat dalam segalanya. Kamu mampu dalam mengendalikan segala hal. Sesungguhnya tidak ada yang pernah memahami dirimu sepenuhnya. Termasuk dirimu sendiri. Kau terus memaksa tegak berdiri kokoh. Sedang dirimu ingin menyerah. Apa yang salah dengan ingin menyerah? Kau tak perlu sungkan bercerita, seperti pada orang-orang yang melihatmu kuat. Ah, manusia. Kadang Cuma melihat di permukaan. Sejak pagi yang semakin membuat sesak, kau tak bergeming dari jendela kamarmu. Meskipun aku menyapamu berkali-kali. Di beranda tempat kita bersua, kau tak pernah duduk kembali di sana. Sudahkah kau kembali di tempat kau bersama orang-orang kuat itu? Ah, aku hanya melihat kau dengan penuh haru. Kau ternyata baik-baik saja, meski sebelumnya kau ingin menyerah. -Rifa Nurafia ...
~KECEWA ( BAGIAN JATUH DENGAN BEDA) Bahagia semacam apa yang kamu inginkan? Sedangkan kau tenggelam sendiri pada luka-luka hari kemarin. Mari belajar membenarkan harapan, menata ulang setiap doa. Meluruskan dan menyepakati dengan diri sendiri, menatanya kembali, menyusun, serta mengumpulkan semua serpihan kecewa. Segala hal memang tak pernah kembali utuh, paling tidak masih ada harapan untuk diperbaiki. Tidak pernah ada segala hal yang sama termasuk dengan luka. Sebenarnya hati dan perasaan kita yang membuat luka itu ada. Kita kecewa. Ketidakpuasan akan suatu hal yang membuat luka itu semakin membengkak. Sadar atau tidak, kita membenci kesedihan. Tetapi kita sering mengutuk kesedihan pada orang lain sebuah kesalahan. Padahal ternyata kita yang sedang kecewa; pada diri sendiri. Ada ruang di relung hati yang tidak bisa dijelaskan bahkan sulit menjadi uap yang tidak terpikirkan. Itu sebuah sistem pada diri dan perasaan manusia. Tidak apa, kamu berhak merasakan itu. Apa a...
Perempuan dan Perasaan#1 Oleh: Rifa Nurafia Perempuan sadar atau tidak memiliki rasa dan perasaan yang terkadang melebihi ketakutan. Perasaanya bisa menjadi membabi buta dan mencaci maki. Perasaan yang dimiliki perempuan bisa memiliki sinyal kuat kebaikan atau malah menjadi malapetaka. Sadar atau tidak perasaan dalam diri perempuan kuatnya melebihi yang ada di laki-laki. Katanya perempuan lebih menggunakan perasaan daripada logika. Bisa jadi itu benar, sebab terkadang perempuan lebih banyak melihat sesuatu menggunakan rasa dirinya; perasaan yang muncul untuk dirinya saja tanpa pernah memikirkan rasa atau perasaan yang lain. Tidak sepernuhnya benar, tapi bisa diuji dengan kalian para perempuan mengambil keputusan dan memberikan sebuah respon terhadap apa yang dialami. Perasaan begitu melekat sebab keberadaanya menjadi banyak mendominasi dalam diri perempuan. Perasaan adalah segala sesuatu yang dirasakan dengan pancaindera. Lewat perasaan yang ada dalam diri, emosi itu muncul da...
Komentar
Posting Komentar